Postingan nggak penting lagi aah, lebih menyejukkan ketimbang keringetan berdebat di hari Senin dengan orang admin n HR heheeh:)

Saya terhitung males nonton infotainment baik lokal maupun amirika. Blagu ya? Nggak kan? Padahal saya ngambil PhD di bidang gosipologi lho. Dulu sih sempeut rajin nonton Ryan Seacrest termasuk the worst or the best 100 apalah. Tapi belakangan males. Nggak tau kenapa. Apa jangan-jangan males berantem rebutan remote control kali ya? Kalo berita showbiz lokal, terakhir nonton juga pas lagi di Aceh sama ibunya blacky doet awal 2007 lalu. Rupanya si pinter ini punya hobby aneh ngikutin update infotainment. Pagi-pagi buta (*hiperbola) di kamar hotel, saya selalu terbangun krn si ibu ini dengan manisnya sudah duduk di atas sisi tempat tidurnya mengikuti pernyataan2 sepasang penyanyi dangdut yang cerita soal pengalaman mereka melewatkan hari Valentine. Tentunya lengkap dengan "aku tuh aku tuh yaaa". Kenapa saya kenal pasangan terutama sang cowok? Soalnya dia sempat jadi duta kampanye flu burung 2006-2007 lalu.
Nah untuk memperpendek cerita, kemarin, hari Minggu, karena satu dan lain hal a.k.a terkunci waktu mo kunjungan mingguan ke rumah mertu, akhirnya kami bertiga anak beranak ndeprok di rumah tetangga depan. Sambil nunggu mertuski balik dari arisan, di sana kami menerima ramah tamah, disuguhi teh manis hangat and kue sagu plus tontotan infotainment RCTI * klo ndak salah.
Di sela-sela iklan, nyonya rumah menerangkan klo bambangologi and mayangologi lagi heboh2nya jadi topik tayangan para jurnalis dadakan dunia hiburan (JDDH) itu. Rupanya para JDDH itu sudah menyemut di depan rumah mayangologi di sebuah kota di Jawa Tengah sana. Karena nggak enak hati minta membesarkan volume TV, saya cuma mengandalkan teks di layar untuk tahu apa yang terjadi, misalnya "kakak mayangologi" keluar dari rumah (mungkin mo beli gula sekilo di warung sebelah atau kepingin aja cari alasan keluar rumah). Tangannya sesekali bergaya "ngomong lu sama tangan saya" ke kamera. Lalu kakaknya yang satu lagi turun dari taksi menggendong bayi masuk ke rumah yang kalu nggak salah tipe 75an gitu. Terus bentaran kemudian, the royal couple themselves satu2 keluar dari pintu garasi. Wajah mereka asik banget cool, tanpa ekspresi, berjalan tanpa kesan tergesa2 masuk ke dalam mobil berkaca gelap dengan para security guard yang siap membuka/menutup pintu. Nggak ada tuh upaya2 mereka menyembunyikan si nyonya dan tuan dari jepretan JDDH.
Sebenernya urusan amat sih ya. Ngapain juga saya berisik? Sah2 aja orang usaha, baik kalangan yang mengaku wartawan yang kepingin dapet berita atau the so-called celebrity itu yang menurut kecurigaan saya kok ya "ngareup n senang2 aja" kehidupan pribadinya masuk TV. Nyonya rumah yang saya tumpangin setengah jam lebih itu, juga sangat antusias memberikan background ke saya. Kelihatan banget dia kasihan sama saya, kok ya bisa ya tetangga saya punya menantu yang gak gaul gitu sih. Mungkin itu pikirnya.
Kok saya jadi teringat dengan kehebohan kisah kematian n pascakematian Heath Ledger yang harinya berdekatan dengan mertuanya mayangologi. Yang namanya paparazzi di sana pasti lebih galak dan keukeuh, bukan? Belum lagi peralatan kamera mereka pasti berat dan gila-gilaan. Tapi alhasil gagal total toh? Paling2 foto yang beredar di media sebatas jepretan kepala Michelle Williams dari belakang atau sorotan waktu si ibu muda itu berjalan mlipir-mlipir dengan menununduk senunduk-nunduknya supaya si pefoto kepusingan nyari angle. Memang enak? The body guards really did their job to make sure nobody stole her pictures during this challenging time of hers and her family. Atau gini, ingat adegan Julia Roberts n kang mas Hugh Grant waktu keluar dari satu-satunya pintu rumah mungil menerobos serbuan kilat n jeritan journos di film Notting Hill? Dari bahasa tubuh mereka tampak kenggakkepinginan kehidupan pribadi mereka jadi konsumsi tabloid. Kalaupun mereka sebenernya dalam hati kepingin juga sih, they did it very beautifully thanks to their professional communications people *ehm.
I didn't see that in that almost 30-minute "mute" infotainment.
Hehe, nggak penting kan? Yuk mari, back to "letters for stakeholders".
*image courtesy of gettyimages gratisan