Pendapat saya sih gitu.... | |
 Arief, sorry telat baru ngereview sekarang. Soalnya baru pindahan kantor dst dst. Jadi akhirnya baru sempat nulis sekarang.
Gue kasih punten empat. Bukan karena gratis lho. Tapi karena pijitan embaknya enak. Tapi lu jangan ge-er dulu sama hasil reviewan gw, soale nggak secanggih Misty and Tetty yang sampai bisa mengulas soal simpul urat segala.
Waktu gue ke tempat spa lu sore-sore itu, kebetulan cuma gue n day yang dilayani. Muka mbak2mu kyeknya lemes gitu melihat kami berdua karena jadi nggak pulang cepet deh, hehe. Tempatlu bagus, gw mengagumi banget sambil maki2 sirik kok bisa2nya lu nemu lahan sebesar dan serindang ini di daerah Cilandak pula. Hebat juga ide rumah panggung lu itu, ya semoga aja kalau hujan nggak lembab dan semoga aja rayap2 di jaksel lebih tertib ketimbang yang di jaktim. Hehe. Tapi ya itu tadi Rief, klo misalnya tamunya sendirian n belum tentu mau berbagi ruangan sama tamu lain gimana? Mesti lu pikirin tuuh.
Kemarin itu gw merasakan pijatan ala Swedia. Kalo day pijatan ala Perancis. Gw ngegoogle sih nggak nemu definisi pijatan ala Perancis, yang ada french kiss hehe.
Jadi kapan kasih gw dan teman2 gratisan lagi, mumpung masih soft opening kikikikik. Mungkin baiknya gw datang nggak sore menjelang malam ya, karena cafe yang sepekarangan dengan spa mulai genjrang-genjreng jam segitu. Musiknya mengalahkan petikan dawai apalah ala spa gitu.
Ya sud. Itu aja dulu. Wish you and wifey all the best. Semoga bisnis lancar.
*image courtesy of tanta pineleng 
 Wah sayang saya nggak punya foto asli. Okay lah ya, soalnya saya nggak tahan kepingin ikutan memuja-muji tempat ini setelah mengintip blog seseorang yang pernah ke cabangnya di Jakarta.
Kunjungan saya ke COZY Spa di Kuta sana terjadi sudah beberapa bulan yang lalu. Jadi maap-maap lah kalau kurang mantap mereview. Selain itu, saya bukan pengamat spa, plus dalam satu repelita kuantitas kunjungan ke sana pun hanya dapat dihitung dengan jari (tangan, nggak pakai kaki). Akibatnya, paling-paling review saya nggak jauh dari keluhan "ah biasa saja" sampai "okaaay bangeeet".
Saya pun ngeh dengan keberadaan COZY SPA karena bisikan Adey Noor, salah satu anggota tim ”tenda roro jonggrang” di Bali pertengahan Desember 2007 lalu. Kami semakin tergonggong setelah beberapa kali melihat wajah jeung Adey tampak segar dan damai di penghujung malam sepulang dia dari relaksasi di situ. Beda dengan di siang hari, hihihi.
Menurut jeung ahli kenikmatan dunia ini, untuk standar Bali harga layanan Cozy cukup ramah, terutama bagi kantong para pekerja Jakarta seperti kami yang bergaji nggak dolar AS banget itu. Bedalah dengan para pengunjung pulau itu baik yg ekspat atau bergaji ala ekspat.
Sementara, pada waktu itu keadaan sudah mendesak. Kami butuh kenikmatan jasmani setelah berpenat-penat hati dan pikiran sampai hampir menampar orang. Kepingin rasanya dimanjakan. Sayang, kami jauh dari keluarga dan nggak berani melakukan yang ilegal, akhirnya ke spa aja deh.
Berdasarkan brosur, beberapa cabang COZY SPA telah tersebar dari Timor Leste sampai ke Jakarta, tepatnya di Gandaria yang sampai sekarang belum kejadian juga saya singgahi.
Dari sekian layanan yang mereka punyai, yang paling top adalah foot reflexology aromatherapy. Harganya muah muah. Begitu ramahnya harga layanan tersebut, sampai-sampai teman irit saya si jeung Mar manggut-manggut saja waktu membayar karena terpuaskan oleh pijitan maknyes mereka di kaki dan pundak yang membuat isi otak plong plong plong nyes itu. Nggak ngomel dia. Berarti harga okay toh?
Layanan para mba dan mas juga ramah. Sopan terkendali, terutama para masnya, tehee.
Tetapi, saya kurang begitu terkesan dengan beberapa layanan mereka yang lain, yang saya icip-icip beberapa kali melarikan diri ke sana. Layanan facial biasa saja, nggak sebanding dan nggak setuntas dan serapi yang saya dapatkan di sebuah kios di selatan jakarta sana (dekat salah satu polres, not helping, not helping at all yaaa) dengan harga yang sama – lagi2 thanks untuk bisikan seorang teman. Pijitan yang konon ”Cozy take to the moon”? Biasa saja. Malah saya kepingin usul gimana kalau nama itu dipakai saja untuk layanan reflexologi kaki, jadi ”foot reflexology take me to the moon, bebih”. Lalu, gimana dengan pedicure dan menicure? Hmm, kurang, bahkan tangan saya luka. Sedikit sih. Tapi ndak boleh toh seharusnya? Gimana klo saya kena penyakit menular, coba?
Ah, tampaknya saya harus segera menghentikan the so-called review ini karena nanti jangan-jangan pada males ke sana lagi.
Ingat, ingat. Foot Reflexologynya maknyes. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Seorang teman, teman kuliah yang mantan anak dram ben itu menyarankan saya untuk nonton Californication saja ketimbang Ugly Betty. Hiihiihi… iya saya suka Ugly Betty. Tak berlama-lama setelah mendapat bocoran tentang film ini, saya langsung mengecek ke ITC yang ternyata sudah menjual beberapa kopian season pertama. Yah, dalam hal ini Indonesia memang surga. Begitu menonton adegan pertama, JENG JENG lha lho ooookkkkaaaaaaaaayyyyyy huahahaaaa. No wonder diprotes keras dari sana-sini. Tokoh sentral dalam serial ini adalah Hank Moody, seorang penulis yang apes betul jalan hidupnya, karena “konon” kehilangan “muse”. Akibatnya sepanjang kisah ia susah untuk produktif. Sang dewi inspirasi tak lain adalah bekas pacar a.k.a bekas teman serumah selama belasan tahun. Jadi kebayang dong betapa nelangsanya penulis apes ini dengan kebegoannya dalam menjalani hidup penuh penderitaan ditambah lagi cinta matinya kepada si mantan yang mau nggak mau harus selalu ia temui berhubung bergantian mengasuh anak mereka. Tetapi rupanya walaupun jarang bikin draft novel dan tetap cinta kepada eksnya yang kini sedang merencanakan nikah kembali itu, Hank sangat aktif melakoni peran sebagai seorang praktisi “promiscuity” (silaken lihat wikipedia sendiri - capek euy ngetik klo mesti ngejelasin lagi). Untuk itu, siap-siaplah menyaksikan adegan yang nggak jelas apakah bikin dagdigdug dan tersipu-sipu atau malahan nyebelin karena porsinya yang cukup banyak itu. Ngerti sih, pasti ada pembenaran di balik adegan-adegan gamblang tersebut. Bukan asal pajang dan memang perlu. Wong si tokoh sangat aktif gitu lho gonta-ganti partner tidur dengan segala preferensi. Saya sih termasuk yang terperanjat menyaksikan kesibukan si pengangguran banyak acara plus kehidupan keluarganya yang sudah pasti sangat disfungsional ini. Bayangin aja, suatu malam anak perempuan Hank yang baru 12 tahun itu memergoki seorang perempuan nggak dikenal dan tentu nggak berbusana di kamar tidur sang ayah. Setelah sang ayah minta maaf, keesokan hari kehidupan kembali berjalan normal dan nggak ada tuh ketegangan yang berkepanjangan. Gubrak. Walau dapat cercaan di mana-mana, serial ini konon mendapat acungan jempol dan seperti biasa dong saya sesekali menyumbangkan air mata menontoni keapesan si tokoh utama. Sekarang, saya sudah estafetkan kopian film itu ke mbak Day. Rasanya lebih aman kalau film itu diedarkan saja ketimbang teronggok di rumah. Soale balita saya sudah besar dan tentu seperti halnya anak-anak seumurannya ia sudah pandai mengoperasikan dvd player. Yah demi stabilisasi hueheheheeeee. Nerusin House lagi aaahhh. 
 Awalnya saya semangat banget ngikutin serial ini. Yang main Debra Messing (Will and Grace kesukaan saya yg serialnya pun nggak terselesaikan juga d'oh). Muncul di Hallmark setiap minggu jam 20.00.
Sayang setelah episode ketiga saya mulai terkantuk-kantuk. Nggak tau kenapa. Bukunya pun mulai tersendat-sendat saya teruskan (yeeeeeeeeeaa... am one of those who read books + its films parallelly). Kenapa ya kira-kira? Apa karena segera ill-feeling melihat cara Ponds beriklan di film itu. Takjub aja saya nggak nyangka gaya jualannya mencontoh sinetron sini, yang seneng banget membuang waktu sia-sia demi supaya produk yang lagi terjual tampak jelas. Yang kayak gini kan mengakibatkan orang males dan nggak tertarik dan jauh dari penasaran dengan si produk itu. Sapa sih yang kasih rekomendasi jualan gitu? 
    | House | Nov 24, '07 11:18 AM for everyone |
 Thanks to Pak Arief and Bu Besar di kantor, sekarang saya lagi ngikutin House. Dr. House si Kabid Diagnotis bikin terngiler-ngiler gitu. Nyeleneh. Agak sakit jiwa di tengah kesakitan fisik dan hatinya. Beda dengan sahabatnya Kabid Onkologi Wilson yang sangat simpatik itu. Terus terang, serial ini sebenernya membuat saya makin takut sakit kalau di Indonesia. Waktu menulis ini pun saya sudah termulas-mulas membayangkan lagi nasib para kerabat dan kenalan yang pernah jadi korban diagnosis asal-asalan dokter2 di sini :( Okay, saya mo lanjutkan ke season 2 dulu. ya yaa saya ketinggalan. si bu besar sudah season 4. Klo mau yang asli silakan cek katanya sudah ditayangkan di kabel. Lupa, AXN ato Star World? Males ngegoogle :) 
 | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Akiko Hayashi |
Review ini khusus buat ortu yang senang mengubek2 cari bahan bacaan utk balitanya. Di Indonesia, judul buku ini diterjemahkan menjadi "Cat Air Yoshimi", sedangkan versi Perancis yang saya download, klo diterjemahkan menjadi “Hati-hati, Cat Air Ajaib!”. Bapak dan Ibu bisa beli online, langsung ke toko buku juga bisa. Wong minggu kemarin saya lihat masih banyak kok di gramed PIM, teronggok kasihan di rak paling bawah bagian buku anak.
Sampulnya segera menarik perhatian saya, yaitu gambar anak berambut berantakan dan berpipi gembul kemerahan. Hihi, mengingatkan saya dan isu harian bad hair day saya ehehe tie-in. Harga lumayan lah, Rp28.000. Ketebalan buku standaaaaaaaaar buat anak balita apalagi dengan attention span seperti anak saya yang gampang banget tergoda dengan bermacam hal pada waktu yang bersamaan (multi tasking hehe). Mulut Anda pun nggak akan pegal membacakan buku itu. 10 menit selesai, kecuali kalau keasyikan bersama si kecil mengamati detail serta sapuan gambar indah dengan warna lembut. Kerumitan cerita? Punten 8, nggak rumit. Nggak seperti dongeng Upik Abu.
Semula anak saya nggak begitu tertarik waktu saya tawarkan beli ini saja ketimbang salah satu serial Cars. Iya saya tahu kamu suka mobil, tapi sekali-kali gitu lloooooo.... Lama-lama, tergoda juga dia melihat kelakuan si ular kecil yang berhasil mencuri cat minyak hasil pinjaman Yoshimi dari abangnya yang ngocol itu. Swish swish swish, terdamparlah Yoshimi di hutan. Pluk, pluk, pluk, bukannya ketakutan karena tersesat, ia malah asyik bermain dengan cat warna-warni, ditemani teman-teman baru si tupai, tikus, beruang, burung gagak yang nggak banyak omong. Belakangan sewaktu si abang sok tahu dan pelit mendapati adiknya di hutan, tercenganglah ia melihat hasil karya si rambut berantakan itu. Huaaaa….. kereeeeeeeennnnnn dan indah sekali. Makanya kak, jangan suka ngocol dan meremehkan kemampuan adik sendiri. Heheeeee.
Oh ya, kalau pas lagi ke toko buku, boleh juga membeli Litrah si Penyihir Mungil (ilustrator Takako Hirono). Gambar-gambarnya juga dashyat.

    | Big love | Oct 11, '07 7:53 AM for everyone |
 Sewaktu makan siang tadi salah seorang teman saya akhirnya komen, “Kenapa sih tiba-tiba lu heboh banget ngebahas Big Love dan poligaminya itu?”
Hihi. Ya itulah saya, kalau lagi tertarik dengan suatu hal, pasti bakalan terus membahasnya, siapa tahu bisa mengompori lawan bicara untuk ikutan suka.
Saya belum tahu pasti bagaimana akan merating serial tv ini karena baru-baru ini saja mengikuti season pertamanya di salah satu saluran tv. Mungkin nanti akan saya berikan bintang empat. Tetapi lihat saja lah dulu, toh saya baru menonton beberapa episode. Itu pun bolong2 gara2 nggak sanggup bertahan nonton tiga episode sekaligus dari jam sembilan malam setiap hari.
Di negaranya film ini sudah hampir menyelesaikan season kedua. Hmm, looking good, setidaknya nggak buru-buru terkena bantai seperti nasib serial favorit saya studio 60 on the sunset strip, yang tersendat-sendat menjelang akhir season satu lalu menghilang selamanya.
Big Love menyorot kehidupan poligami sekelompok penganut sekte fundamentalis mormon. Sang tokoh utama (Bill Paxton) yang berusia setengah baya punya tiga istri, yaitu Jeanne Tripplehorn, Chloë Sevigny (she’s cool, saya menonton beberapa filmnya), dan Ginnifer Goodwin (ingat Mona Lisa Smile? Dia berperan sedikit di situ). Bersama ketujuh putra-putri, mereka tinggal di sebuah compound di Utah, yang lengkap dengan peralatan modern. Pakai kolam renang segala walaupun dengan interior dalam dan luar rumah yang agak berantakan kalau mengikuti standar Martha Stewart (mungkin karena baru pindah dan di rumah itu masih banyak balita – duh dibahas). Masing-masing istri mendiami satu rumah. Keluarga ini cukup tajir berkat usaha suami mengelola beberapa supermarket perangkat rumah walaupun ia tetap terkejut-kejut ketika salah satu istrinya berhutang kartu kredit Rp600 juta.
Film ini sama sekali nggak menggambarkan kecunihinan si Bapak. Mungkin itulah yang membuat saya tergelitik untuk terus menonton. Pertama, ya karena bapak itu nggak cunihin. Artinya ia menjalankan poligami bukan sebagai pembenaran setelah kebablasan dengan WIL. Kedua, ini di Amerika gitu lho. Iya sih, Amerika, harusnya segala macam kreativitas manusia dalam menjalankan kepercayaan bukanlah tontonan aneh. Tetapi tetap aja seru menyaksikan kepanikan keluarga ini dalam menjaga kerahasiaan status di mata tetangga atau teman sekolah. Ketiga, jangan terlalu berharap bisa menontoni acting pemain yang sebentar-sebentar tersenyum licik ala ibu tiri sinetron2 kita (pakai sound effect + gambar selipan deburan ombak yang dashyat haha).
Terus terang, saya cukup terperanjat menyaksikan sekelompok orang di film ini menjalankan poligami sebagai suatu ekspresi keyakinan mereka. Aneh sih, terutama buat saya yang gampang terheran-heran melihat dashyatnya seorang percaya menyaksikan keimanan masing-masing (okaaaayy - am feeling like giving a preach now – this is not me, this is not me). Mungkin karena saya yang Lutheran ini kurang rajin (maaf kata malas tidak digunakan di sini karena terlalu berlebihan hehe) membaca dan mencari tahu. Semasa kecil pun saya terlalu nyaman tinggal di perumahan karyawan Dewan Gereja Indonesia dan menikmati pendidikan di sekolah Katholik sampai SMP. Sangking terlalu nyamannya, saya salah tingkah dan sedikit nggak nyaman ketika masuk SMA negeri. Selain terkaget-kaget mendapati semakin sedikit teman bersalaman tiap natalan, saya rikuh banget waktu pertama kali mengalami gaya ibadah yang jauh dari hening dalam kelompok persekutuan doa di sekolah. Lalu setelah kuliah, masih aja saya terbengong-bengong ketika dalam suatu sesi one-on-one di sebuah Bible Camp di Puncak, seorang teman sulit memahami mengapa saya nggak bisa menyatakan kapan (lengkap dengan tanggal dan tahun) menerima Kristus alias lahir baru. Sekarang, dengan semakin beranjak tuanya saya *ehm, syukurlah saya tidak lagi tersedak-sedak menyaksikan keindahan perbedaan – malahan mencoba turut merayakannya.
Tetapi, tetap saja saya mengalami wow ketika menonton film ini. Woaaaahhh sewaktu melihat pemimpin gereja yang sudah udzur dan dinabikan, ke mana-mana naik hummer dengan supir pribadi berseragam, ditemani dua atau tiga dari belasan istrinya yang berbaju ala “little house on the prairie”. Sepanjang perjalanan mereka menyanyikan himne-himne gerejawi dengan harmoni tiga suara. Kalau supirnya ikutan nyanyi mungkin bisa lebih komplit lagi, sopran-alto-bas-tenor. Hieheheeh.

| |