ReviewReviewReviewReviewCalifornication Jan 6, '08 8:07 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Seorang teman, teman kuliah yang mantan anak dram ben itu menyarankan saya untuk nonton Californication saja ketimbang Ugly Betty. Hiihiihi… iya saya suka Ugly Betty.

Tak berlama-lama setelah mendapat bocoran tentang film ini, saya langsung mengecek ke ITC yang ternyata sudah menjual beberapa kopian season pertama. Yah, dalam hal ini Indonesia memang surga.

Begitu menonton adegan pertama, JENG JENG lha lho ooookkkkaaaaaaaaayyyyyy huahahaaaa. No wonder diprotes keras dari sana-sini.

Tokoh sentral dalam serial ini adalah Hank Moody, seorang penulis yang apes betul jalan hidupnya, karena “konon” kehilangan “muse”. Akibatnya sepanjang kisah ia susah untuk produktif. Sang dewi inspirasi tak lain adalah bekas pacar a.k.a bekas teman serumah selama belasan tahun. Jadi kebayang dong betapa nelangsanya penulis apes ini dengan kebegoannya dalam menjalani hidup penuh penderitaan ditambah lagi cinta matinya kepada si mantan yang mau nggak mau harus selalu ia temui berhubung bergantian mengasuh anak mereka.

Tetapi rupanya walaupun jarang bikin draft novel dan tetap cinta kepada eksnya yang kini sedang merencanakan nikah kembali itu, Hank sangat aktif melakoni peran sebagai seorang praktisi “promiscuity” (silaken lihat wikipedia sendiri - capek euy ngetik klo mesti ngejelasin lagi).

Untuk itu, siap-siaplah menyaksikan adegan yang nggak jelas apakah bikin dagdigdug dan tersipu-sipu atau malahan nyebelin karena porsinya yang cukup banyak itu. Ngerti sih, pasti ada pembenaran di balik adegan-adegan gamblang tersebut. Bukan asal pajang dan memang perlu. Wong si tokoh sangat aktif gitu lho gonta-ganti partner tidur dengan segala preferensi.

Saya sih termasuk yang terperanjat menyaksikan kesibukan si pengangguran banyak acara plus kehidupan keluarganya yang sudah pasti sangat disfungsional ini. Bayangin aja, suatu malam anak perempuan Hank yang baru 12 tahun itu memergoki seorang perempuan nggak dikenal dan tentu nggak berbusana di kamar tidur sang ayah. Setelah sang ayah minta maaf, keesokan hari kehidupan kembali berjalan normal dan nggak ada tuh ketegangan yang berkepanjangan. Gubrak.

Walau dapat cercaan di mana-mana, serial ini konon mendapat acungan jempol dan seperti biasa dong saya sesekali menyumbangkan air mata menontoni keapesan si tokoh utama.

Sekarang, saya sudah estafetkan kopian film itu ke mbak Day. Rasanya lebih aman kalau film itu diedarkan saja ketimbang teronggok di rumah. Soale balita saya sudah besar dan tentu seperti halnya anak-anak seumurannya ia sudah pandai mengoperasikan dvd player. Yah demi stabilisasi hueheheheeeee.

Nerusin House lagi aaahhh.


Add a Comment
How would you rate this movie? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help